
Ketenangan hati merupakan nikmat besar yang sering kali terasa mahal dalam kehidupan modern. Banyak orang terlihat baik-baik saja secara lahiriah, tetapi batinnya diliputi kegelisahan, kecemasan, dan ketidaknyamanan. Dalam Islam, kondisi ini dikenal sebagai hati yang tidak tenang, yaitu keadaan ketika jiwa kehilangan ketenteraman karena menjauh dari nilai-nilai keimanan.
Memahami penyebab hati tidak tenang menurut Islam sangat penting agar seorang Muslim mampu mengenali akar permasalahan batinnya dan menemukan solusi yang tepat sesuai tuntunan syariat. Islam tidak hanya menjelaskan sebab-sebab kegelisahan hati, tetapi juga memberikan jalan keluar yang menenangkan dan menyehatkan jiwa.
Hati (qalb) dalam Islam bukan sekadar organ fisik, melainkan pusat iman, niat, dan perasaan. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ketenangan hati (ithmi’nan) muncul ketika hati dipenuhi iman, dzikir, dan keyakinan kepada Allah SWT. Sebaliknya, ketika hati jauh dari Allah, kegelisahan pun muncul.
Allah SWT berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini menjadi dasar utama bahwa ketenangan sejati bersumber dari hubungan spiritual dengan Allah SWT.
Salah satu penyebab utama hati tidak tenang adalah jarangnya seseorang mengingat Allah SWT. Ketika dzikir dan ibadah ditinggalkan, hati menjadi kosong dan mudah dipenuhi kegelisahan.
Allah SWT berfirman:
“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit.”
(QS. Thaha: 124)
Kehidupan yang sempit di sini tidak selalu berarti kekurangan materi, tetapi kegelisahan batin yang terus-menerus.
Dosa memiliki dampak langsung terhadap ketenangan hati. Setiap maksiat meninggalkan bekas gelap dalam hati yang lama-kelamaan menghilangkan ketenteraman jiwa.
Rasulullah SAW bersabda:
“Jika seorang hamba melakukan dosa, maka akan muncul titik hitam di hatinya.”
(HR. Tirmidzi)
Jika dosa tersebut tidak segera dihapus dengan taubat, hati akan semakin gelap dan tidak tenang.
Cinta dunia yang berlebihan membuat hati selalu merasa kurang. Keinginan yang tidak terpenuhi menimbulkan kegelisahan, iri, dan ketidakpuasan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia menginginkan yang ketiga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika dunia menjadi tujuan utama, hati sulit merasakan ketenangan sejati.
Kurang bersyukur membuat seseorang lebih fokus pada kekurangan daripada nikmat yang telah Allah berikan. Akibatnya, hati dipenuhi keluhan dan rasa tidak puas.
Allah SWT berfirman:
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)
Syukur adalah kunci penting untuk menjaga ketenangan hati.
Kecemasan berlebihan terhadap rezeki, jodoh, kesehatan, dan masa depan menjadi penyebab umum hati tidak tenang. Padahal, Islam mengajarkan tawakal setelah ikhtiar.
Allah SWT berfirman:
“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.”
(QS. At-Talaq: 3)
Kurangnya tawakal membuat hati mudah dikuasai rasa takut.
Hasad (iri dan dengki) merusak ketenangan hati. Seseorang yang iri sulit merasa bahagia atas nikmat yang dimiliki orang lain.
Rasulullah SAW bersabda:
“Jauhilah hasad, karena hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”
(HR. Abu Dawud)
Hati yang dipenuhi dendam dan iri akan selalu gelisah.
Al-Qur’an adalah penawar bagi penyakit hati. Ketika seseorang jarang membaca dan merenungkan Al-Qur’an, hatinya kehilangan sumber ketenangan.
Allah SWT berfirman:
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Isra’: 82)
Hati yang tidak tenang dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, antara lain:
Jika dibiarkan, kondisi ini dapat melemahkan iman dan kualitas hidup seorang Muslim.
Islam memberikan solusi yang jelas dan menyeluruh, di antaranya:
Rasulullah SAW bersabda:
“Sedekah tidak akan mengurangi harta.”
(HR. Muslim)
Bersedekah juga membuka kelapangan hati dan menghilangkan kegelisahan.
Hati yang tidak tenang sering menjadi tanda bahwa Allah SWT menginginkan seorang hamba untuk kembali mendekat kepada-Nya. Kegelisahan adalah panggilan agar manusia memperbaiki iman dan amal.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 6)
Penyebab hati tidak tenang menurut Islam bersumber dari jauhnya hati dari Allah SWT, dosa, cinta dunia berlebihan, dan kurangnya dzikir serta syukur. Dengan memperbaiki hubungan dengan Allah melalui ibadah, taubat, dan amal kebaikan, hati yang gelisah dapat kembali tenang dan lapang. Islam mengajarkan bahwa ketenangan sejati hanya dapat diraih dengan iman yang kuat dan hati yang selalu terhubung dengan Allah SWT.